Aceh Singkil | Portalsingkil Online ~ Kabupaten Aceh Singkil kini berada dalam cengkeraman bencana banjir yang telah merendam ribuan rumah, menjebak warga dalam situasi darurat. Hujan deras tanpa henti selama lima hari berturut-turut telah memicu meluapnya dua nadi kehidupan daerah, hulu Sungai Lae Suraya Simpang Kiri dan Lae Cinendang Simpang Kanan, mengubah sebagian besar wilayah menjadi lautan air keruh. Kecamatan Singkil, khususnya Desa Ujung Bawang di area Pajak Sore, menjadi episentrum kehancuran, menanggung dampak parah dari musibah ini.
Sejak Minggu (23/11/2025) siang hingga malam, curah hujan ekstrem tak henti-hentinya mengguyur wilayah hulu hingga ke seluruh penjuru Kabupaten Aceh Singkil. Kondisi kritis ini mulai mencapai puncaknya pada Senin (24/11/2025) dini hari, sekitar pukul 05.00 WIB, ketika air bah dengan cepat merangsek masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Kesaksian memilukan datang dari Sukran, warga Ujung Bawang yang terdampak. “Air tiba-tiba masuk dan terus meninggi. sebagian barang kami yang rusak, tak bisa diselamatkan,” ujarnya dengan nada khawatir, menggambarkan betapa mendadak dan dahsyatnya bencana ini.
Situasi di lapangan terus memburuk, memaksa warga untuk melakukan evakuasi mandiri dengan segala keterbatasan. Sebagian memilih berlindung di loteng rumah mereka, mencoba menghindari genangan air yang terus mengganas. Bagi mereka yang tidak memiliki loteng, upaya darurat dilakukan dengan membangun “pentas” atau panggung sederhana di dalam rumah, sebuah perjuangan untuk tetap bertahan di tengah kepungan air.
Selain ancaman langsung terhadap keselamatan dan harta benda, akses transportasi kini lumpuh total. Ruas jalan vital yang menghubungkan Pajak Sore Ujung Bawang hingga Sebatang Gunung Meriah telah terendam banjir dengan ketinggian yang membahayakan, menjadikannya tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat sejak Senin (24/11/2025). Kondisi ini tidak hanya menghambat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan, tetapi juga mengisolasi ribuan warga, meningkatkan kekhawatiran akan pasokan logistik dan kebutuhan dasar. Dengan hujan yang terus mengguyur, ketakutan akan kenaikan air yang lebih tinggi menjadi bayangan yang menghantui setiap detik warga Aceh Singkil.{*}
[Khalikul Sakda]























