Aceh Singkil | Portal Singkil Online ~ Bencana alam tak terduga menghantam Kabupaten Aceh Singkil. Hujan deras tanpa henti selama berhari-hari telah memicu banjir yang melumpuhkan sebagian besar wilayah tersebut. Pada Kamis (27/11/2025), luapan air dari hulu Sungai Lae Suraya Simpang Kiri dan Lae Cinendang Simpang Kanan menyebabkan muara Sungai Singkil meluap drastis, merendam puluhan ribu rumah warga di 16 desa di Kecamatan Singkil. Ketinggian air mencapai titik kritis, bervariasi antara dua hingga tiga meter, mengubah pemukiman menjadi lautan luas.
Musibah ini tidak hanya menenggelamkan rumah-rumah, tetapi juga menghanyutkan harta benda berharga serta ternak warga yang tak sempat diselamatkan oleh arus banjir yang dahsyat. Beruntung, dalam kejadian tragis ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, dampak kerugian material sangat besar, dan fasilitas umum vital kini lumpuh total akibat genangan air yang ekstrem. Aktivitas dasar kehidupan masyarakat setempat praktis terhenti.
Desa Ujung Bawang menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Kepala Desa Ujung Bawang, Basir, dengan nada cemas melaporkan, “Kondisi air banjir yang menghantam desa kami, khususnya di daerah Pajak Sore, mencapai ketinggian dua meter hingga tiga meter. . Warga panik melihat cepatnya air naik, sehingga banyak yang terpaksa mengungsi ke loteng atau bahkan atap rumah mereka.” Gambaran Basir memberikan potret nyata dari keputusasaan warga yang berjuang menyelamatkan diri dan keluarga dari amukan air.
Selain ke atap rumah, banyak warga lainnya mencari perlindungan di area jembatan yang menjadi satu-satunya dataran tinggi yang tersisa di tengah kepungan banjir. Kendaraan roda dua dan roda empat juga diamankan di sekitar jembatan untuk menghindari terjangan arus yang mematikan. Sebagian warga memilih mengungsi ke tempat kerabat di wilayah yang lebih aman, menanti kondisi membaik.
Dalam situasi darurat ini, Basir menyampaikan permohonan mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk segera memberikan bantuan vital. “Kami sangat membutuhkan dapur umum, makanan, obat-obatan, tenda, dan perahu karet. Warga tidak bisa memasak karena peralatan dan perlengkapan lainnya hanyut terbawa arus, banyak barang tidak bisa diselamatkan,” keluhnya. Bencana ini bukan hanya merenggut tempat tinggal, tetapi juga melumpuhkan kemampuan dasar masyarakat untuk bertahan hidup, menambah beban penderitaan yang tak terhingga,” ungkapnya.(*)
[Khalikul Sakda]























