Aceh Singkil, | portalsingkil Online ~ Musibah banjir dahsyat yang melanda Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, pada Kamis, 27 November 2025, telah menciptakan kondisi darurat yang memprihatinkan di Kampung Ujung Bawang. Air bah setinggi tiga meter tidak hanya melumpuhkan akses jalan, tetapi juga menjebak ratusan warga dalam kepungan air, memaksa mereka mengungsi di loteng dan atap rumah, bahkan di jembatan.
Kondisi ini diperparah dengan kelangkaan bantuan dari pemerintah daerah, memicu keresahan dan desakan dari masyarakat. Kaspar, Sekretaris BPG (Badan Permusyawaratan Gampong) Kampung Ujung Bawang, dengan nada sedih dan mendesak, menyuarakan aspirasi masyarakatnya kepada mediaini. “Masyarakat Ujung Bawang sekarang banyak sudah kerisis makanan karena bantuan dari Pemda belum ada, berhubungan arus jalan semua terhambat. Untuk itu, dengan adanya dana desa kita ketahanan pangan, kami mengharap kepada Bapak Kepala Desa (Basir) supaya mengupayakan secepatnya untuk kebutuhan darurat yang mendesak ini,” ujarnya.
Bencana kali ini disebut-sebut sebagai yang terparah, dengan ketinggian air yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Banjir selama ini enggak pernah terjadi kayak gini, begitu besar dan dahsyatnya,” tambah Kaspar, menggambarkan keputusasaan warga.
Krisis Kemanusiaan Mendesak: Lapar, Sakit, dan Kehilangan Tempat Berteduh
Dampak banjir ini jauh melampaui sekadar kerugian materi. Kaspar melaporkan bahwa banyak anak-anak kecil yang belum makan, sementara orang tua hanya bisa bertahan seadanya. “Kalau kami orang tua masih bisa kami tahan,” katanya.
Selain kelaparan, ancaman kesehatan juga membayangi. Warga banyak yang sakit dengan keluhan seperti diare dan batuk. Ini menimbulkan kebutuhan mendesak akan obat-obatan. “Kami membutuhkan obat-obatan, di mana warga banyak yang sakit seperti diare, batuk, dll,” ungkap Kaspar.
Hanyutnya perlengkapan masak dan tempat masak juga menyebabkan warga tidak bisa menyiapkan makanan. Oleh karena itu, Kaspar mendesak Pemda Kabupaten Aceh Singkil untuk segera mendirikan dapur umum. “Kami berharap kepada Pemda Kabupaten Aceh Singkil agar didirikan dapur umum, karena tempat masak dan perlengkapan masak habis hanyut terbawa arus banjir,” pintanya.
Lebih lanjut, Kaspar juga menekankan kebutuhan mendesak akan tenda sebagai tempat berteduh dan beristirahat, mengingat warga sudah kelelahan dan kerusakan tempat tinggal yang layak. “Kami juga butuh tenda untuk tempat kami berteduh dan beristirahat, kami sudah kecapekan,” ujarnya.
Untuk evakuasi barang-barang yang tersisa dan mungkin masih bisa diselamatkan, meskipun sudah rusak, warga juga memerlukan perahu karet. “Juga kami perlu perahu karet untuk mengevakuasi barang-barang yang masih ada tertinggal walaupun sudah rusak,” jelas Kaspar.
Desakan untuk Kepala Desa dan Dukungan Pemerintah Daerah
Sebagai perwakilan masyarakat, Kaspar kembali menegaskan desakannya kepada Kepala Desa Ujung Bawang, Basir, untuk tidak menunda-nunda lagi pencairan dana desa ketahanan pangan. “Kami selaku mewakili masyarakat sekali lagi mengharap kepada Kepala Desa segera dicairkan dana desa ketahanan pangan itu secepatnya, jangan lagi menunggu-nunggu lama-lama,” tegasnya.
Ia juga berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan dukungan penuh terhadap keputusan desa terkait alokasi dana ketahanan pangan ini. “Juga kami mengharap Pemda juga mendukung atas keputusan desa terkait ketahanan pangan ini untuk keperluan yang mendesak saat musibah banjir ini segera terlaksana agar jangan lagi istilahnya ditunda-tunda untuk memberikan bantuan. Kami ini sudah lapar, capek, harta benda kami sudah hanyut, kami tidak berdaya lagi.”
Dalam keputusasaan yang mendalam, masyarakat Kampung Ujung Bawang kini hanya bisa berdoa agar banjir cepat surut dan kondisi kembali normal. “Kami berdoa agar banjir ini cepat surut seperti biasanya,” tutup Kaspar, mewakili harapan seluruh warga yang terdampak.{*}
[Khalikul Sakda]























